Bersentuhan dengan Budaya Asli Mandalika, Suku Sasak

Mengenali kebudayaan berbagai suku di Indonesia akan jadi agenda menarik ketika Anda memiliki waktu luang nanti. Kali ini, mari kita membahas mengenai Kawasan Ekonomi Khusus yang tengah dipromosikan secara masif, Mandalika. Tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan keberadaan sirkuit balap kelas internasional, Mandalika juga memiliki kebudayaan otentik yang khas.

Suku Sasak, merupakan suku asli Lombok yang tinggal di wilayah Mandalika. Berkat perencanaan yang baik serta eksekusi pengembangan wisata yang matang, berbagai desa di Mandalika sukses bermetamorfosa menjadi desa wisata. Salah satu desa yang wajib Anda kunjungi adalah Desa Sade. Di desa ini, Anda akan mendapat pengalaman berharga dan merasakan bagaimana sensasi menjadi bagian dari masyarakat Sasak.

Desa Sade, Mandalika

Memiliki luas sekitar 5 hektar, Desa Sade merupakan satu dari tiga desa yang dihuni oleh suku Sasak. Jaraknya dari bandara cukup dekat, hanya sekitar 8 kilometer, atau 20 sampai 30 menit saja perjalanan darat. Beragam daya tarik wisata budaya bisa dinikmati, sembari Anda belajar banyak hal terkait kehidupan suku Sasak.

Tradisi Pernikahan yang Unik

Salah satu tradisi yang terbilang sangat unik dan tidak ditemukan di tempat lain, adalah tradisi pernikahan yang ada di Desa Sade. Jika umumnya pernikahan dilakukan dengan pendekatan kedua keluarga calon pengantin, di desa ini pernikahan dilakukan dengan menculik calon mempelai wanita dari rumahnya.

Anda tidak salah baca, tradisi Kawin Lari, demikian prosesi ini disebut. Pihak mempelai pria akan diam-diam menculik mempelai wanita, den menyembunyikannya selama beberapa hari. Setelah itu, si wanita akan dikembalikan, untuk kemudian diikuti dengan prosesi lamaran. Jika disetujui, baru kemudian pernikahan dapat dilangsungkan.

Tradisi ini sudah terjadi secara turun temurun, sampai-sampai masyarakat Sasak memiliki ruangan khusus di rumahnya untuk menjaga anak gadisnya agar tidak diculik oleh mempelai yang belum disetujui hubungannya. Unik ya?

Bale, Tempat TInggal Suku Sasak

Tempat tinggal suku Sasak sendiri disebut dengan Bale. Setidaknya, terdapat kurang lebih 700 jiwa yang ada di Desa Sade, Mandalika. Nah, Bale ini sendiri terdapat beberapa macam, berdasarkan warga yang tinggal di dalamnya.

Pertama ada Bale Bantar, yakni tempat tinggal atau rumah adat yang digunakan untuk hunian para pejabat desa. Fungsi lain dari Bale Bantar adalah melakukan persidangan adat.

Kemudian kedua, adalah Bale Kodong, merupakan satu hunian yang dibuat khusus untuk masyarakat yang sudah berusia lanjut. Fungsi lain dari Bale Kodong adalah tempat tinggal sementara bagi warga Sasak yang baru saja menikah namun belum memiliki rumah sendiri.

Terakhir, adalah Bale Tani, yang merupakan tempat tinggal masyarakat suku Sasak di Desa Sade yang berprofesi sebagai petani.

Dengan masih menerapkan arsitektur warisan nenek moyang, Bale dibangun sedemikian rupa agar tetap bisa bertahan pada goncangan gempa. Jika dilihat, secara umum ruangan di dalam Bale ada dua, yakni pertama untuk anggota keluarga perempuan, dan yang kedua anggota keluarga laki-laki. Di ruangan tempat anggota keluarga perempuan ini juga terdapat satu bilik untuk ‘menyembunyikan’ anak gadis agar tidak diculik, seperti yang dibahas sebelumnya.

Dengan dinding anyaman bambu, penyangga utama juga menggunakan batang bambu, serta atap yang menggunakan jerami, rumah ini terasa sangat nyaman dihuni. Hal uniknya lagi, Anda juga akan menemui lantai yang dibuat dari campuran tanah dan kotoran ternak (sapi dan kerbau) yang sudah mengeras. Secara berkala, lantai rumah ini kembali dilumuri kotoran ternak agar tidak kering ketika musim kemarau tiba.

Yang Tak Boleh Terlewatkan, Kain Tenun

Satu hal yang wajib untuk Anda lihat, alami, dan bawa pulang, adalah kain tenun dari masyarakat Desa Sade. Terdapat adat bahwa perempuan di desa ini wajib memiliki kemampuan menenun kain sebelum ia menikah. Jadi tak heran, Desa Sade yang jadi objek wisata di Mandalika ini memproduksi kain tenun yang jumlahnya cukup banyak, dan tentu saja berkualitas dan bernilai tinggi.

Anda juga bisa mencoba turut membuat kain tenun dengan alat tradisional, untuk mengalami secara langsung bagaimana sensasinya.

Mandalika memang tidak sekedar pantai dan sirkuit MotoGP saja, namun juga menawarkan keindahan budaya dan keramahan masyarakat asli yang bernilai tinggi. Tak heran jika pengunjung melakukan agenda berulang untuk mengunjungi lokasi ini.

Anda mulai tertarik? Anda bisa melihat berbagai artikel terkait mengenai pembahasan banyak objek wisata lainnya di blog Indonesia Travel. Di sana, Anda juga dapat menemukan banyak penawaran rencana liburan yang bisa langsung diakses melalui situs resminya.

Selamat merencanakan liburan, dan selamat bersenang-senang!