7 Masalah Ini Sering Terjadi Pada Petani Indonesia

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk juga lahan pertanian dan perkebunan yang sangat luas. Sehingga tidak heran jika masing-masing wilayah di Indonesia memiliki banyak komoditas penting. Baik untuk kebutuhan dalam negeri hingga untuk kebutuhan ekspor ke mancanegara.

Sayangnya dibalik kesuburan lahan di Indonesia serta melimpahnya sumber daya tersebut, masih banyak masalah yang sering mendatangi. Sehingga hal ini membuat taraf hidup para petani Indonesia tidak dapat meningkat seperti yang diharapkan. Untuk mengetahui lebih lanjut, apa saja masalah para petani Indonesia dan apa saja kemungkinan solusinya, simak informasi berikut ini.

  1. Kesulitan Pemodalan

Salah satu permasalahan utama yang sering dihadapi para petani di Indonesia yaitu terkait pemodalan. Berangkat dari modal yang minim hingga hasil yang kurang maksimal, akhirnya banyak petani terbentur pada masalah keuangan tersebut. Hasil tani habis digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga proporsi modal menjadi makin menipis. Selanjutnya lahan tidak dapat lagi diolah secara maksimal dan akhirnya memberikan hasil yang makin sedikit.

Dari sini dilakukan berbagai upaya dari pemerintah untuk mendukung pemodalan para petani Indonesia supaya lebih baik. Mulai dari bantuan dana hingga berbagai macam pinjaman dari bank negara dengan bunga rendah ditetapkan untuk membantu hal tersebut. Sehingga potensi peningkatan penghasilan petani akan semakin meningkat.

  1. Hama dan Penyakit
Bahlias, North Sumatra, Indonesia.

Masalah yang sering terjadi pada petani Indonesia lainnya yaitu terkait masalah hama dan penyakit. Bukan hal baru jika hal ini sering menghantui para petani. Sehingga pada akhirnya hasil panen tidak memuaskan dan bahkan dapat mendatangkan kerugian. Tanaman yang terserang hama tidak bisa panen maksimal, sehingga pendapatan petani berkurang.

Oleh sebab itu tidak heran jika banyak dilakukan penyuluhan serta pendampingan untuk menghadapi masalah hama dan penyakit tersebut. Supaya hal ini bisa dihindari dan hasil pertanian menjadi lebih baik. Dengan demikian potensi kerugian yang dihadapi petani juga akan lebih kecil.

  1. Regenerasi Yang Makin Minim

Kendala lain yang juga menjadi momok untuk dihadapi yaitu risiko regenerasi yang makin minim. Saat ini profesi petani seperti kekurangan minat di kalangan dunia pendidikan Indonesia. Sehingga potensi jumlah petani yang makin sedikit terlihat dengan jelas. Karena kebanyakan lebih memilih untuk menekuni profesi yang lain. Bahkan anak-anak petani juga memilih langkah yang berbeda dengan orang tuanya.

Maka dari itu sangat penting mengedepankan sosialisasi yang tepat mengenai hal tersebut. Jangan sampai pola pikir generasi di masa kini menghapus profesi tersebut sebagai pilihan ke depannya. Sangat penting membuka wawasan generasi muda tentang menariknya profesi yang satu ini. Termasuk tujuan ke depan yang ingin didapatkan dari keberlanjutan pertanian di Indonesia. Dengan demikian, maka risiko regenerasi yang kurang memadai dapat dihindari. Sehingga lahan pertanian dan perkebunan di Indonesia tetap dapat dikelola hingga tahun-tahun yang akan datang.

  1. Teknologi Kurang Memadai

Untuk mendukung proses pertanian yang lebih baik, tentu saja peranan teknologi pertanian merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan. Sayangnya hingga saat ini hal tersebut tidak sepenuhnya menjangkau seluruh petani di Indonesia. Sebagian besar masih kurang memahami teknologi yang lebih baik untuk mendukung usaha pertanian yang lebih maksimal.

Maka dari itu menjadi tugas dari pemerintah dan instansi terkait untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai hal tersebut. Tidak sebatas pada pengenalan saja, namun melakukan penerapan merupakan langkah yang lebih penting. Supaya ke depannya makin banyak teknologi pertanian yang dapat diaplikasikan pada lahan pertanian dan perkebunan di Indonesia.

Melalui teknologi yang makin baik, tentu saja hasil pertanian akan jauh lebih baik pula. Hal ini nantinya akan memberikan tingkat kesejahteraan petani yang juga jauh lebih baik. Sehingga ke depannya taraf hidup petani tidak stagnan dan monoton, namun mengalami peningkatan sesuai yang diharapkan.

  1. Masalah Penyediaan Pupuk

Menjalankan pertanian tentu saja perlu mendapatkan dukungan operasional yang memadai. Salah satunya melalui penyediaan pupuk bagi para petani di Indonesia. Ada banyak masalah dimana petani sulit memperoleh pupuk dengan mudah. Bahkan sering kali penyebaran pupuk untuk para petani mengalami masalah berlanjut-lanjut. Sehingga petani kesulitan mengoptimalkan hasil panennya.

Dengan adanya masalah ini tentu saja dibutuhkan dukungan dari pemerintah untuk membantu pemerataan pupuk bagi para petani. Sehingga setiap petani di seluruh pelosok Indonesia tidak mengalami kesulitan mendapatkanpupuk . Dengan ketersediaan pupuk yang mencukupi, maka tentu saja hasil pertanian akan lebih baik dan optimal.

  1. Penetapan Harga Dasar

Akhir-akhir ini sering kali masyarakat mendengar berbagai macam masalah terkait dengan penetapan harga hasil pertanian. Tentu saja ini bukan hal baru dan sudah berlangsung sekian lama. Penetapan harga dasar hasil pertanian sering kali membuat para petani mengalami kerugian saat panen. Karena harga yang ditetapkan terlalu rendah dan pada akhirnya tidak sesuai modal yang telah dikeluarkan.

Maka dari itu pemerintah harus terus bekerja keras menetapkan kebijakan harga dasar yang sesuai bagi seluruh hasil tani di Indonesia. Sehingga upaya ini dapat membantu memberikan keuntungan yang lebih baik bagi para petani di negeri ini. Melalui keuntungan yang baik tentu saja taraf hidup petani juga akan meningkat menjadi jauh lebih baik.

  1. Isu Replanting

Masalah yang dihadapi petani Indonesia berikutnya yaitu terkait dengan kebutuhan untuk melakukan penanaman kembali atau replanting. Contohnya yang banyak terjadi pada para petani sawit di Indonesia. Banyak isu-isu yang melatar belakangi hal tersebut. Mulai dari ketersediaan dana untuk melakukan replanting, hingga proses melakukan peremajaan tersebut.

Tak dapat dipungkiri bahwa pembakaran lahan masih banyak yang melakukan karena lebih hemat dari sisi biaya. Namun tentu saja hal tersebut sangat merugikan dan bukan merupakan praktik perkebunan terbaik, sehinggae tentu saja hal ini perlu menjadi perhatian baik oleh pemerintah hingga para petani sawit sendiri. Melalui program kerja sama dengan berbagai perusahaan sawit yang tepat, diharapkan isu pembakaran lahan dapat dihindari. Sementara di satu sisi juga dana untuk melakukan proses replanting tersedia secara optimal. Tentunya hal ini hanya dapat berhasil berkat kerja sama antara banyak pihak. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh  Asian Agri  pada para mitra petani plasma dan swadaya yang tergabung bersama mereka.

Asian Agri  dan 4 Pilar Berkelanjutan

Salah satu pendukung peningkatan kesejahteraan petani sawit di Indonesia yaitu  Asian Agri . Perusahaan ini merupakan perusahaan kelapa sawit yang telah berdiri sejak tahun 1979 di Indonesia. Dalam perkembangannya, ASIAN AGRI mampu menjadi salah satu perusahaan sawit terbesar, bukan hanya di Indonesia, namun juga di Asia.

Dalam komitmennya membantu para petani sawit di Indonesia,  Asian Agri memiliki program Asian Agri  2030. Melalui program tersebut, perusahaan kelapa sawit ini meluncurkan 4 pilar strategis yang mendukung filosofi pendiri  perusahaan yaitu 5C.. Hal tersebut meliputi lingkungan sekitar (Community), negeri (Country), iklim (Climate), konsumen (Customer), dan perusahaan (Company). Dimana salah satunya melalui program kemitraan dengan petani sawit yang berada di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi.

Melalui program kemitraan ini, ASIAN AGRI bekerja sama dengan para petani sawit untuk melakukan replanting atau peremajaan pada sejumlah kebun kelapa sawit. Salah satunya melalui Paket Perkebunan Sawit Rakyat kepada para petani plasma binaan ASIAN AGRI yang berlokasi di Riau dan Jambi. Program ini menerapkan kebijakan tanpa bakar dan menerapkan praktik pengelolaan kebun berkelanjutan. Sehingga bukan hanya aman bagi lingkungan, namun memberikan hasil yang lebih memadai kepada para petani sawit yang tergabung di dalamnya.

Kemitraan Asian Agri  dengan Petani

Masalah pada para petani Indonesia memang tidak dapat dihindari. Hal tersebut tentu saja akan sering kali terjadi dan menghambat potensi kesejahteraan para petani di Indonesia. Salah satunya para petani kelapa sawit sebagai komoditas penting yang tersebar luas di Indonesia. Melalui jalan keluar yang ditawarkan oleh  Asian Agri I di atas, tentu saja masalah ini dapat diminimalkan.

Lewat adanya kemitraan dengan petani secara maksimal, maka pendapatan petani sawit akan jauh lebih optimal. Melalui program replanting, maka perkebunan sawit di Indonesia akan tetap terjaga dan memberikan hasil terbaik. Dengan kerja sama replanting antara Asian Agri  dan petani sawit, program ini tidak hanya memberikan hasil kebun yang memuaskan. Namun di satu sisi juga membantu meningkatkan pendapatan petani sawit hingga dua kali lipat. Sehingga kesejahteraan para petani sawit mampu meningkat lebih baik.